Selasa, 14 April 2015


A.    Hadits Tentang Iman dan Ibadah
Iman secara bahasa berarti membenarkan perkataan seseorang dengan pasti karena percaya kepadanya. Sedangkan secara istilah iman berarti membenarkan semua yang dikabarkan oleh Rasulullah saw dengan begitu saja, tanpa melihat secara langsung, karena percaya dan yakin terhadapnya.
Iman merupakan kondisi hati dan jiwa yang timbul dari pengetahuan tentang sesuatu dan kecondongan kepadanya. Iman itu bisa bertambah dan bisa berkurang tergantung pada lemah atau kuatnya dua faktor, yaitu pengetahuan dan kecondongan. Seseorang yang tidak mengetahui atau menduga adanya sesuatu, ia tidak akan beriman kepadanya. Kendati demikian pengetahuan tidaklah cukup untuk membangun keimanan didalam diri seseorang, karena sangat mungkin apa yang diketahuinya atau konsekuensi-konsekuensinya bertentangan dengan keinginan dan kecondongannya, yaitu tatkala ia condong kepada apa yang bertentangan dengan pengetahuannya. Bisa jadi ia memutuskan untuk melakukan tindakan yang melawan pengetahuannya sendiri. Sebagaimana firman Allah:

1.      Hadits pertama
Rasulullah besabda:
          اْلاِيْمَانُ مَعْرِفَةٍ بِاْلَقلْبِ وَ قَوْلٌ بِلِّلسَانِ وَعَمَلٌ بِاْلَاْركَانِ (رواه ابن ماجه)
Artinya:
“iman itu dipercaya dalam hati, diucapkan dengan lisan, dan diamalkan dengan perbuatan (H.R. Ibnu Majah)”.
Hadits ini menjalaskan prinsip-prinsip dalam keimanan. Hadits diatas menjelaskan bahwa iman terdiri atas tiga unsur, yakni diyakini dengan hati, diucapkan dengan lisan dan diamalkan dalam bentuk perbuatan. Ketiga unsur tidak dapat berdiri sendiri-sendiri, jika ada unsur yang tidak dimiliki seseorang berarti ia belum menjadi orang yang beriman. Dengan demikian, orang yang beriman hatinya selalu meyakini sepenuh hati, lisannya mengucapkan secara benar, kemudian keyakinan dan ucapan itu diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari
2.      Hadits kedua
Rasulullah bersabda:
قَاَلَ اَخْبِرْنِي عَنِ اْلاِ يْمَانِ قَاَلَ اَنْ نُؤْمِنَ بِا للهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَاْليَوْمِ اْلَاَخِرِ وَنُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ (رواه مسلم)
             Artinya:
“Jibril berkata: kabarkanlah kepadaku tentang iman? Rasulullah saw bersabda: iman itu adalah kamu percaya kepada Allah swt, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, hari akhir dan kamu percaya pada takdir yang baik dan yang buruk (H.R. Muslim).
Hadits diatas mengajarkan tentang pengajaran malaikat jibril kepada para sahabat melalui Rasulullah saw. Ada enam pokok keyakinan yang harus diyakini oleh setiap orang yang mengaku beriman. Keyakinan ini sering disebut rukun iman, keenam keyakinan itu ialah:
a.       Iman kepada Allah swt.
Iman kepada Allah artinya percaya dengan yakin, bahea Tuhan Allah itu ada, kuasa, tidak menyerupai sesuatu, adanya tidak didahului sesuatu, kekal, berdiri sendiri, Esa, berpengatahuan, berkemauan dan seterusnya sifat-sifat kesempurnaan.
b.      Iman kepada malaikat-malaikat Allah
Malaikat itu tidak sama dengan manusia dalam sifat-sifat dan perbuatannya, bukan laki-laki dan bikan perempuan, tidak makan dan tidak minum, dan dalam keadaan biasa tidak dapat dilihat dengan mata kepala.
Mereka menjadi pesuruh Allah swt., guna mengurusi apa saja yang diperintahkan. Mereka tidak pernah melanggar perintah ataupun merasa bosan menjalankan perintah Allah swt.
c.       Iman kepada kitab-kitab Allah
Kita percaya bahwa kitab-kitab itu bukan bikinan makhluk. Artinya bukan karangan Rasul, tetapi benar-benar dari hadirat Allah semata. Adapun kitab-kitab Allah yang wajib kita percayai ada empat:
1)      Kitab Taurat, yang diturunkan kepada Nabi Musa
2)      Kitab Zabur, yang ditunkan kepada Nabi Dawud
3)      Kitab Injil, yang diturunkan kepada Nabi Isa
4)      Kitab Al-Qur’an, yang diturunkan kepada Nabi Muhammad
d.      Iman kepada Rasul-rasul Allah
Allah memilih dan menjadikan beberapa orang istimewa, sampai sekira dapat menerima petunjuk dari Allah swt (kuat menerima wahyu-Nya), dan dapat menyampaikan petunjuk-petunjuk itu kepada sekalian manusia dan dapat menjadikan contoh pula.
e.       Iman kepada hari akhir
Kita wajib mempercayai akan datangnya hari akhir (hari kiamat), diterangkan bahwa jika hari akhir itu datang maka semua makhluk yang ada di dunia akan rusak dan binasa.
f.       Iman kepada qada’ dan qadar
Kita wajib percaya bahwa segala sesuatu yang telah terjadi dan yang akan terjadi, semuanya itu menurut apa yang telah ditentukan dan ditetapkan oleh Allah sejak sebelumnya (zaman azali). Jadi segala sesuatu itu  (nasib baik dan buruk) sudah diatur dengan rencana-rencana tertulis atau batasan-batasan yang tertentu, tetapi kita tidak dapat mengetahuinya sebelum terjadi.
3.      Hadits ketiga
Rasulullah bersabda:
اَلْاِيْمَانُ بِضْعٌ وَ سَبْعُوْنَ شُعْبَةً فَأَفْضَلُهَا َقَوْلٌ لَاِالَهَ اِلَّا اللهُ وَاَدْنَاهَا اِمَاطَةُ اْلَاَذَي عَنِ الَّطرِيْقِ وَالْحَيَاءُ شُعْبَةَ مِنَ اْلاِيْمَانِ (رواه مسلم)
            Artinya:
“iman itu ada tujuh puluh cabang. Yang paling utama ialah ucapan laa ilaha illallah, sedangkan yang paling rendah ialah menyingkirkan gangguan dari tengah jalan. Adapun malu juga sebagian dari iman.(H.R. Muslim)”.
Hadits diatas menjelaskan bahwa banyak macam amal yang termasuk bentuk keimanan. Kata tujuh puluh satu bukan berarti jumlahnya, tetapi menunjukkan bahwa amal itu banyak macamnya. Amal yang paling utama nilainya dalam keimanan adalah ucapan laa ilaha illallah. Ucapan ini merupakan puncak keimanan karena pernyataan itu sebagai pengakuan bahwa tidak ada sesembahan, kecuali hanya Allahswt. Adapun perbuatan yang dianggap kecil adalah menyingkirkan gangguan dari tengah jalan. Meskipun dianggap kecil, amal tersebut dapat membaea manfaat bagi yang lainnya. Dengan perbuatan itu, banyak orang yang dapat selamat dari kesengsaraan di jalan. Bahkan, dalam hadits itu dijelaskan bahwa rasa malu pun termasuk dari iman. Malu disini ialah malu untuk berbuat maksiat. Orang yang sudah tidak malu ketika melakukan maksiat berarti ia telah kehilangan iman dari hatinya.
4.      Hadits keempat
Rasulullah bersabda:
            قال الله تعالى انا خير شريك فمن أشرك معي شريكا فهو للشريك
            Artinya:
            “Allah swt. berfirman: Aku adalah sebaik-baik sekutu. Barang siapa mempersekutukan Aku dengan yang lain, berarti ia telah diserahkan kepada sekutu itu. Wahai manusia! Beramallah kalian dengan ikhlas karena Allah swt. Sesungguhnya Allah swt tidak menerima amal seseorang, kecuali yang disadari keikhlasan kepada-Nya. Janganlah kalian mengucap, ini demi Allah dan demi pemimpin kalian. Amalan seperti demikian itu hanyalah untuk kehormatan pemimpin kalian, tidak sedikitpun karena Allah swt. (H.R. Al-Bazzar).
            Hadits diatas menjelaskan pentingnya keikhlasan dalam beramal. Kunci diterimanya amal seseorang, salah satunya ialah keikhlasan niatnya. Jika amal itu tidak ikhlas karena Allah, sia-sialah amal itu meskipun amal itu baik.
B.     Keterkaitan Hadits Tentang Iman dan Ibadah dalam Fenomena Kehidupan dan Akibatnya
Setelah mengetahui kandungan hadits-hadits tentang iman dan ibadah, kita dapat mengetahiu keterkaitan antara keduanya. Keterkaitan antara iman dan ibadah sebagai berikut:
1.      Iman dan ibadah mempunyai keterkaitan yang sangat erat karena iman menjadi salah satu syarat diterimanya ibadah. Sebaliknya, ibadah yang dilakukan tanpa iman maka akan sia-sia
2.      Orang yang mengaku dirinya beriman harus dapat membuktikannya melalui perbuatan yang dinilai ibadah dalam kehidupan sehari-hari.
3.      Iman tanpa dibuktikan dengan perbuatan nyata berarti dusta
4.      Selain iman, amal ibadah harus diniati dengan ikhlas kepada Allah swt. Ibadah yang dilakukan untuk selain Allah swt adalah syirik
5.      Menduakan niat dalam beribadah/beramal karena Allah swt dan yang lain tidak akan diterima.
C.     Menerapkan Isi Kandungan Hadits tentang Iman dan Ibadah
Adapun penerapan dari keempat hadits tersebut di atas dalam kehidupan sehari-hari, antara lain:
1.      Memiliki rasa senang terhadap hadits-hadits Nabi Muhammad saw sebagai petunjuk hidupnya.
2.      Gemar mempelajari hadits-hadits dalam rangka memahami ajran islam.
3.      Meyakini kebenaran ajaran yang disampaikan Nabi Muhammad saw melalui hadits-hadits beliau
4.      Melaksanakan ajaran-ajaran yang terdapat dalam hadits Nabi Muhammad saw dalam kehidupan
5.      Berusaha meningkatkan mutu amal agar Allah swt berkenan menerimanya sebagai bentuk ibadah dan amal shaleh
6.      Meningkatkan keimanan dan tidak menyekutukan Allah swt dengan apapun
7.      Memurnikan niat dalam segala ibadah hanya untuk mendapatkan ridha Allah swt.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar