A.
Hadits
Tentang Iman dan Ibadah
Iman secara
bahasa berarti membenarkan perkataan seseorang dengan pasti karena percaya
kepadanya. Sedangkan secara istilah iman berarti membenarkan semua yang
dikabarkan oleh Rasulullah saw dengan begitu saja, tanpa melihat secara
langsung, karena percaya dan yakin terhadapnya.
Iman merupakan
kondisi hati dan jiwa yang timbul dari pengetahuan tentang sesuatu dan
kecondongan kepadanya. Iman itu bisa bertambah dan bisa berkurang tergantung
pada lemah atau kuatnya dua faktor, yaitu pengetahuan dan kecondongan.
Seseorang yang tidak mengetahui atau menduga adanya sesuatu, ia tidak akan
beriman kepadanya. Kendati demikian pengetahuan tidaklah cukup untuk membangun
keimanan didalam diri seseorang, karena sangat mungkin apa yang diketahuinya atau
konsekuensi-konsekuensinya bertentangan dengan keinginan dan kecondongannya,
yaitu tatkala ia condong kepada apa yang bertentangan dengan pengetahuannya.
Bisa jadi ia memutuskan untuk melakukan tindakan yang melawan pengetahuannya
sendiri. Sebagaimana firman Allah:
1.
Hadits
pertama
Rasulullah
besabda:
اْلاِيْمَانُ مَعْرِفَةٍ بِاْلَقلْبِ وَ
قَوْلٌ بِلِّلسَانِ وَعَمَلٌ بِاْلَاْركَانِ (رواه ابن ماجه)
Artinya:
“iman itu
dipercaya dalam hati, diucapkan dengan lisan, dan diamalkan dengan perbuatan (H.R.
Ibnu Majah)”.
Hadits ini
menjalaskan prinsip-prinsip dalam keimanan. Hadits diatas menjelaskan bahwa
iman terdiri atas tiga unsur, yakni diyakini dengan hati, diucapkan dengan
lisan dan diamalkan dalam bentuk perbuatan. Ketiga unsur tidak dapat berdiri
sendiri-sendiri, jika ada unsur yang tidak dimiliki seseorang berarti ia belum
menjadi orang yang beriman. Dengan demikian, orang yang beriman hatinya selalu
meyakini sepenuh hati, lisannya mengucapkan secara benar, kemudian keyakinan
dan ucapan itu diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari
2.
Hadits
kedua
Rasulullah
bersabda:
قَاَلَ اَخْبِرْنِي عَنِ اْلاِ يْمَانِ قَاَلَ اَنْ نُؤْمِنَ بِا للهِ
وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَاْليَوْمِ اْلَاَخِرِ وَنُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ
خَيْرِهِ وَشَرِّهِ (رواه مسلم)
Artinya:
“Jibril berkata: kabarkanlah kepadaku tentang iman? Rasulullah saw
bersabda: iman itu adalah kamu percaya kepada Allah swt, malaikat-Nya,
kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, hari akhir dan kamu percaya pada takdir yang
baik dan yang buruk (H.R. Muslim).
Hadits diatas mengajarkan tentang pengajaran malaikat jibril kepada
para sahabat melalui Rasulullah saw. Ada enam pokok keyakinan yang harus
diyakini oleh setiap orang yang mengaku beriman. Keyakinan ini sering disebut
rukun iman, keenam keyakinan itu ialah:
a.
Iman
kepada Allah swt.
Iman kepada Allah
artinya percaya dengan yakin, bahea Tuhan Allah itu ada, kuasa, tidak
menyerupai sesuatu, adanya tidak didahului sesuatu, kekal, berdiri sendiri,
Esa, berpengatahuan, berkemauan dan seterusnya sifat-sifat kesempurnaan.
b.
Iman
kepada malaikat-malaikat Allah
Malaikat itu
tidak sama dengan manusia dalam sifat-sifat dan perbuatannya, bukan laki-laki
dan bikan perempuan, tidak makan dan tidak minum, dan dalam keadaan biasa tidak
dapat dilihat dengan mata kepala.
Mereka menjadi
pesuruh Allah swt., guna mengurusi apa saja yang diperintahkan. Mereka tidak
pernah melanggar perintah ataupun merasa bosan menjalankan perintah Allah swt.
c.
Iman
kepada kitab-kitab Allah
Kita percaya
bahwa kitab-kitab itu bukan bikinan makhluk. Artinya bukan karangan Rasul,
tetapi benar-benar dari hadirat Allah semata. Adapun kitab-kitab Allah yang
wajib kita percayai ada empat:
1)
Kitab
Taurat, yang diturunkan kepada Nabi Musa
2)
Kitab
Zabur, yang ditunkan kepada Nabi Dawud
3)
Kitab
Injil, yang diturunkan kepada Nabi Isa
4)
Kitab
Al-Qur’an, yang diturunkan kepada Nabi Muhammad
d.
Iman
kepada Rasul-rasul Allah
Allah memilih dan menjadikan
beberapa orang istimewa, sampai sekira dapat menerima petunjuk dari Allah swt
(kuat menerima wahyu-Nya), dan dapat menyampaikan petunjuk-petunjuk itu kepada
sekalian manusia dan dapat menjadikan contoh pula.
e.
Iman
kepada hari akhir
Kita wajib mempercayai akan
datangnya hari akhir (hari kiamat), diterangkan bahwa jika hari akhir itu
datang maka semua makhluk yang ada di dunia akan rusak dan binasa.
f.
Iman
kepada qada’ dan qadar
Kita wajib
percaya bahwa segala sesuatu yang telah terjadi dan yang akan terjadi, semuanya
itu menurut apa yang telah ditentukan dan ditetapkan oleh Allah sejak
sebelumnya (zaman azali). Jadi segala sesuatu itu (nasib baik dan buruk) sudah diatur dengan
rencana-rencana tertulis atau batasan-batasan yang tertentu, tetapi kita tidak
dapat mengetahuinya sebelum terjadi.
3.
Hadits
ketiga
Rasulullah
bersabda:
اَلْاِيْمَانُ بِضْعٌ وَ سَبْعُوْنَ شُعْبَةً فَأَفْضَلُهَا َقَوْلٌ لَاِالَهَ
اِلَّا اللهُ وَاَدْنَاهَا اِمَاطَةُ اْلَاَذَي عَنِ الَّطرِيْقِ وَالْحَيَاءُ شُعْبَةَ
مِنَ اْلاِيْمَانِ (رواه مسلم)
Artinya:
“iman itu ada
tujuh puluh cabang. Yang paling utama ialah ucapan laa ilaha illallah,
sedangkan yang paling rendah ialah menyingkirkan gangguan dari tengah jalan.
Adapun malu juga sebagian dari iman.(H.R. Muslim)”.
Hadits diatas
menjelaskan bahwa banyak macam amal yang termasuk bentuk keimanan. Kata tujuh
puluh satu bukan berarti jumlahnya, tetapi menunjukkan bahwa amal itu banyak macamnya.
Amal yang paling utama nilainya dalam keimanan adalah ucapan laa ilaha
illallah. Ucapan ini merupakan puncak keimanan karena pernyataan itu sebagai
pengakuan bahwa tidak ada sesembahan, kecuali hanya Allahswt. Adapun perbuatan
yang dianggap kecil adalah menyingkirkan gangguan dari tengah jalan. Meskipun
dianggap kecil, amal tersebut dapat membaea manfaat bagi yang lainnya. Dengan
perbuatan itu, banyak orang yang dapat selamat dari kesengsaraan di jalan.
Bahkan, dalam hadits itu dijelaskan bahwa rasa malu pun termasuk dari iman.
Malu disini ialah malu untuk berbuat maksiat. Orang yang sudah tidak malu
ketika melakukan maksiat berarti ia telah kehilangan iman dari hatinya.
4.
Hadits
keempat
Rasulullah
bersabda:
قال الله تعالى انا
خير شريك فمن أشرك معي شريكا فهو للشريك
Artinya:
“Allah swt.
berfirman: Aku adalah sebaik-baik sekutu. Barang siapa mempersekutukan Aku
dengan yang lain, berarti ia telah diserahkan kepada sekutu itu. Wahai manusia!
Beramallah kalian dengan ikhlas karena Allah swt. Sesungguhnya Allah swt tidak
menerima amal seseorang, kecuali yang disadari keikhlasan kepada-Nya. Janganlah
kalian mengucap, ini demi Allah dan demi pemimpin kalian. Amalan seperti
demikian itu hanyalah untuk kehormatan pemimpin kalian, tidak sedikitpun karena
Allah swt. (H.R. Al-Bazzar).
Hadits diatas
menjelaskan pentingnya keikhlasan dalam beramal. Kunci diterimanya amal
seseorang, salah satunya ialah keikhlasan niatnya. Jika amal itu tidak ikhlas
karena Allah, sia-sialah amal itu meskipun amal itu baik.
B.
Keterkaitan
Hadits Tentang Iman dan Ibadah dalam Fenomena Kehidupan dan Akibatnya
Setelah mengetahui kandungan hadits-hadits tentang iman dan ibadah,
kita dapat mengetahiu keterkaitan antara keduanya. Keterkaitan antara iman dan
ibadah sebagai berikut:
1.
Iman
dan ibadah mempunyai keterkaitan yang sangat erat karena iman menjadi salah
satu syarat diterimanya ibadah. Sebaliknya, ibadah yang dilakukan tanpa iman
maka akan sia-sia
2.
Orang
yang mengaku dirinya beriman harus dapat membuktikannya melalui perbuatan yang
dinilai ibadah dalam kehidupan sehari-hari.
3.
Iman
tanpa dibuktikan dengan perbuatan nyata berarti dusta
4.
Selain
iman, amal ibadah harus diniati dengan ikhlas kepada Allah swt. Ibadah yang
dilakukan untuk selain Allah swt adalah syirik
5.
Menduakan
niat dalam beribadah/beramal karena Allah swt dan yang lain tidak akan
diterima.
C.
Menerapkan
Isi Kandungan Hadits tentang Iman dan Ibadah
Adapun
penerapan dari keempat hadits tersebut di atas dalam kehidupan sehari-hari,
antara lain:
1.
Memiliki
rasa senang terhadap hadits-hadits Nabi Muhammad saw sebagai petunjuk hidupnya.
2.
Gemar
mempelajari hadits-hadits dalam rangka memahami ajran islam.
3.
Meyakini
kebenaran ajaran yang disampaikan Nabi Muhammad saw melalui hadits-hadits
beliau
4.
Melaksanakan
ajaran-ajaran yang terdapat dalam hadits Nabi Muhammad saw dalam kehidupan
5.
Berusaha
meningkatkan mutu amal agar Allah swt berkenan menerimanya sebagai bentuk
ibadah dan amal shaleh
6.
Meningkatkan
keimanan dan tidak menyekutukan Allah swt dengan apapun
7.
Memurnikan
niat dalam segala ibadah hanya untuk mendapatkan ridha Allah swt.